Welcome to robisatriawan.blogspot.com

Tuesday, June 24, 2014

Topeng Kayu Desa Labuapi


Di setiap sudut Pulau Lombok, Anda sesekali menemui beberapa topeng yang dijual sebagai merchandise. Jika Anda memperhatikan dengan seksama, berbeda dengan topeng pada umumnya, tenyata topeng-topeng tersebut tidak menunjukan ekspresi. Penasaran dengan topeng kayu “ekspresi dingin” tersebut? Anda bisa membelinya dari pembuatnya langsung di Desa Labuapi Lombok.

Tak hanya topeng saja, Desa Labuapi juka menghasilkan barang-barang seni tradisional lainnya. Seperti patung, tempat buah, baki, hiasan dinding, dan lain sebagainya. Anda bisa meilih ratusan jenis karya seni yang mayoritas terbuat dari kayu. Beberapa hasil kerajinan tersebut juga dikombinasikan dengan pecahan kulit kerang atau cukil. Namun yang paling diminati adalah topeng kayu yang tanpa ekspresi tersebut.

Di Desa Labuapi ini, Anda juga bisa menengok proses pembuatan berbagai kerajinan kayu tersebut. Para pengerajin bahkan akan menyambut Anda meskipun hanya sekedar untuk memotret karya mereka. Anda bisa mengikuti bagaimana mereka memahat calon topeng, mengecat sampai finishing sehingga menghasilkan sebuah karya berupa topeng nan unik tersebut.

Beberapa lampau yang lalu, biasanya topeng-topeng tersebut dibuat dari kayu Pohon Mahogani. Akan tetapi seiring berjalannya waktu pohon mahogani menjadi sulit dicari, bahan tersebut diganti dengan kayu pohon lainnya. Seperti Pohon Mangga, Pohon Nangka, atau Pohon Kelengkeng. Bahan-bahan untuk membuat kerajinan tersebut juga tidah hanya berasal dari Desa Labuapi saja. Misalnya kulit kerang atau cukil didatangkan dari desa penghasil cukil, yaitu Desa Lendang Re. Demikian juga dengan bahan-bahan lainnya.

Desa Labuapi sudah menjadi sentra pengerajin topeng dan kerajinan kayu sejak tahun 1995. Krisis moneter yang melanda negara ini pada tahun 1998 pun bahkan tidak mempengaruhi kegiatan desa ini. Bahkan, kerajinan kayu ini mencapai masa jayanya pada era krisis tersebut. Kerajinan kayu Desa Labuapi ini biasanya dipasarkan melalui kolega-kolega yang berada di Pulau Bali. Selain itu, kerajinan dari Desa Labuapi ini juga diekspor ke beberapa negara.

Pusat kerajinan kayu Desa Labuapi ini hanya berjarak 11 Kilometer dari Kota Mataram. Anda bisa mengunjunginya dengan menggunakan kendaraan pribadi. Anda bisa menempuh jalur yang menuju ke Pelabuhan Lembar. Setelahnya, Anda bisa menanyakan pada penduduk setempat. Karena tidak ada tanda jalan yang menuntun Anda ke Desa Labuapi ini.

Masjid Beleq Bayan Lombok

Suasana spiritual Pulau Lombok memang tak jauh berbeda dengan Pulau Bali, Anda bisa mengunjungi berbagai pura di pulau ini. Seperti Pura Narmada, Pura Pangsung, Pura Taman Mayura, dan masih banyak lagi. Namun jika diihat dari aspek masyarakatnya yang mayoritas beragama Islam, dapat dipastikan bahwa kebudayaan Islam juga hadir dan berkembang di Pulau Lombok ini. Anda bisa mengunjungi masjid tertua yang ada di Pulau Lombok, yaitu Masjid Bayan Beleq. Disini Anda bisa menggali sejarah masuknya Islam sekaligus melihat saksi sejarah tersebut, Masjid Bayan Beleq itu sendiri.
Masjid Bayan Beleq terletak sekitar 80 Kilometer dari Kota Mataram. Peninggalan sejarah ini menjadi situs yang dicari oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Tidak tertutup untuk umat Islam saja, Masjid Bayan Beleq terbuka bagi siapa saja yang ingin mengetahui dan mempelajari sejarah Islam di Pulau Lombok. Untuk mencapainya, Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa mobil. Anda bisa menempuh jalur Mataram-Senggigi-Pemenang-Tanjung-Gangga-Anyar-Bayan. Dari Mataram perjalanan akan Anda tempuh sekitar 2 jam.



Masjid Bayan Beleq dibangun di sekitar abad 16 oleh Syeh Gaus Abdul Razak, salah satu penyebar agama Islam di Bayan. Masjid ini dibangun berbentuk persegi, dengan dinding dari bambu setinggi 1,25 Meter. Dibawahnya terdapat pondasi dari batu yang ditata setinggi pinggang orang dewasa. Bagian atapnya berbentuk limas dua tingkat, dibuat dari anyaman daun kelapa. Di bagian puncak disematkan hiasan seperti mahkota. Buntuk atap ini menggambarkan pengaruh dari Hindu Jawa yang ada sebelum masuknya Islam ke Lombok.

Tepat di depan pintu masjid terdapat sebuah gentong, yang di letakkan dan diikat di bawah pohon Semboja. Gentong ini merupakan tempat untuk menampung air wudhu.

Untuk masuk ke dalam Masjid Bayan Beleq, Anda harus membungkuk karena pintu masuknya cukup pendek. Di bagian dalam, lantai masjid hanya berupa tanah. Anda bisa melihat 4 pilar di dalam masjid. Keempat pilar tersebut merupakan simbol dari empat desa yang turut membantu pendirian masjid ini.

Anda juga akan mendapati hiasan berbentuk ikan dan burung di ujung pilar-pilar tersebut. Masing-masing memiliki makna tersendiri. Hiasan ikan melambangkan mahkluk yang hidup di perairan, yang berarti kehidupan bawah atau duniawi. Sedangkan hiasan burung melambangkan kehidupan setelah kematian. Kedua hiasan tersebut mempunyai pesan bahwa setiap umat beriman selayaknya bisa menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Selain itu Anda bisa melihat hiasan lain berupa pohon, telur, ayam dan naga yang tergantung di atas mimbar. Di bagian badan naga terdapat tiga ekor burung yang melambangkan Islam Wetu Telu (sebuah aliran Islam masa awal, yang masih ada sampai saat ini).

Selain Masjid Bayan Beleq sebagai bangunan utama, Anda akan menemui enam bangunan lain di sekitar masjid dengan ukuran yang berbeda. Bangunan-bangunan yang juga berdinding bambu tersebut merupakan makam para pendahulu Islam di Bayan. Di sebelah Selatan masjid terdapat empat makam, yaitu makam warga pertama yang memeluk Islam dan makam penyebar ajaran Islam pertama. Di sebelah Utara terdapat dua makam, yaitu makam Syekh Gaus Abdul Razak dan Titi Mas Penghulu.

Setelah puas melihat dan mempelajari sejarah Islam di Pulau Lombok beserta peninggalannya, Anda bisa mengunjungi toko souvenir yang dikelola oleh masyarakat setempat. Toko tersebut terletak tak jauh di depan Masjid Bayan Beleq. Di situ Anda bisa membeli kenang-kenangan berupa miniatur Masjid Bayan Beleq, atau cinderamata tradisional lainnya.

Friday, June 20, 2014

Anyaman desa Beleke Lombok


Desa Beleka Lombok merupakan desa sentra industri yang tertua dan terbesar di Pulau Lombok. Kerajinan yang dihasilkan oleh desa ini adalah pernak-pernik anyaman. Hampir semua penduduknya bermata-pencaharian sebagai pengerajin anyaman. Tak hanya hasil kerajinan mereka sendiri yang dikerjakan, namun penduduk setempat juga membantu menyelesaikan hasil kerajinan (setengah jadi) dari desa lain. Misalnya Desa Penunjak yang terkenal dengan kerajinan tembikarnya.

Jauh sebelum Pulau Lombok dikenal di dunia pariwisata, kerajinan tangan sudah menjadi budaya dan tradisi di Desa Beleka Lombok ini. Akhirnya semenjak 25 tahun yang lalu, hasil anyaman Desa Beleka mulai dikenal dan dipasarkan, dari wilayah lokal menjalar sampai ke internasional. Jika Anda tertarik dengan sebuah souvenir anyaman yang Anda temui di Kota Makasar, Anda bisa singgah sebentar ke Desa Beleka.

Di desa ini, Anda bisa menyaksikan tangan-tangan yang cekatan menganyam rotan. Anda bisa mengamati proses pembuatannya sampai menjadi sebuah souvenir yang berkualitas. Jika tertarik, Anda juga bisa mempelajari dan ikut membuat anyaman seperti para pengerajin tersebut. Siapa sangka ternyata Anda juga berbakat, sehingga Anda bisa membawa oleh-oleh berupa buah karya tangan Anda sendiri.


Jika Anda ingin sekedar melihat-lihat dan berbelanja, Anda bisa mengunjungi Art Shop dan showroom milik Bapak H. Syukron yang terletak tepat di depan SDN Beleka I. Di galeri tersebut, Anda bisa menemui sebagian besar produk anyaman Desa Beleka yang dibuat oleh para pengerajin. Mayoritas hasil anyaman dikumpulkan dan dijual di sini. Anda juga bisa membeli hasil kerajinan tersebut untuk oleh-oleh.

Hasil kerajinan anyaman yang dibuat di Desa Beleka Lombok ini juga bermacam-macam. Seperti pelaratan rumah tangga, hiasan dinding, pernak-pernik dekorasi, dan lain sebagainya yang sebagian besar berbahan dasar Ketak (sejenis Mendong) dan Rotan. Harga yang ditawarkan juga bervariatif dan relatif murah, tergantung dari ukuran dan tingkat kesulitan dalam pembuatannya. Misalnya, Anda bisa membawa pulang sebuah vas bunga atau piring buah dengan harga Rp. 15.000,- hingga Rp. 30.000,- per buah.

Salah satu hasil kerajinan yang menjadi andalan Desa Beleka Lombok ini adalah Cupu. Benda yang satu ini memiliki kaitan sejarah dan budaya masyarakat setempat, yang berpengaruh besar terhadap perkembangan kerajinan anyaman Desa Beleka ini.

Cupu adalah sebuah wadah yang berbentuk bulat, yang biasanya digunakan sebagai tempat tembakau dalam upacara Bendulang. Nama tersebut diambil dari bahasa Sasak yang berarti bundar atau bulat. Dari Cupu yang sederhana ini, kemudian muncul ratusan bahkan ribuan varian. Jadi Anda jangan heran jika menemui sebagian besar hasil anyaman yang berbentuk bulat.

Selain itu Anda juga bisa menemukan Gandek, sebuah tas tradisional khas Pulau Lombok. Tas ini terbuat dari anyaman kulit bambu dengan kayu yang diukir pada bagian tutup dan dasarnya. Seperti halnya tas-tas modern, Gandek juga digunakan untuk menyimpan barang-barang pribadi. Bagi kaum pria Suku Sasak, Gandek dipakai ketika bekerja atau ketika bepergian. Selain itu Anda juga akan menemui hasil kerajinan yang lain seperti kerajinan kayu, Pameje (pisau pendek khas Pulau Lombok), keris, serta kerajinan tempurung kelapa.

Kawasan sentra kerajinan anyaman Desa Beleka terletak sekitar 57 Kilometer dari Kota Mataram. Anda bisa mengunjunginya dengan mengginakan kendaraan pribadi. Anda bisa mengambil rute Cakranegara-Kediri-Praya-Batunyala-Mujur-Desa Ganti. Kemudian sekitar 1,5 Kilometer dari Desa Ganti, Anda akan sampai ke Desa Beleka Lombok.

Gerabah Banyumulek Lombok


Ketika mengunjungi Desa Banyumulek, Anda akan disambut dengan gapura hijau yang bertuliskan “Sentra Kerajinan Gerabah Banyumulek”. Uniknya, ketika melangkah masuk ke area desa, Anda akan menemui sekolah serta kantor-kantor pemerintah yang dihiasi gerabah-gerabah besar pada pagar temboknya. Sehingga kesan Desa Gerabah akan sangat kental terasa. Sekaligus menegaskan bahwa Desa Banyumulek ini adalah sentra kerajinan gerabah.


Di Desa Banyumulek Lombok, membuat gerabah merupakan sebuah kemampuan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Keahlian tersebut akhirnya mampu mengangkat perekonomian desa, bahkan menarik pengunjung untuk menyaksikan dan berbelanja gerabah di desa ini.

Di sepanjang jalan desa, Anda akan menemui banyak galeri dan toko di kedua sisi jalan. Pastikan Anda tidak kebingungan akan mengunjungi galeri yang mana, karena banyaknya galeri yang berdiri di desa ini. Namun di antara galeri-galeri tersebut Anda akan menemukan sebuah galeri yang cukup besar. Di galeri besar tersebut Anda bisa menemui bermacam gerabah dengan varian yang lebih lengkap. Mulai dari ukuran, bentuk, warna, motif hiasan, keunikan, sampai fungsi yang bervariatif. Gerabah-gerabah tersebut tentu saja merupakan hasil karya pengerajin gerabah Desa Banyumulek ini. Beberapa diantaranya berupa vas bunga pasir, gentong telur, berbagai bentuk celengan, cas gepeng, adik-kakak ukir asam, kap lampu, hiasan dinding, dan lain sebagainya.

Namun Anda bisa menemui sebuah produk kerajinan gerabah Desa Banyumulek yang khas, yaitu Kendhil Maling. Kendhil yang satu ini cukup unik, karena memiliki desain dan cerita yang berbeda dari kendhil-kendhil biasanya. Kendhil Maling memiliki lubang di bagian dasarnya. Lubang ini dipakai untuk memasukkan air ke dalam kendhil. Seperti cara aneh seorang maling, yang tidak memakai jalan biasa (lewat atap atau lewat jendela, bukan lewat pintu) ketika hendak masuk ke sebuah rumah. Uniknya, desain yang khusus pada Kendhil Maling membuat air tidak keluar dari lubang tersebut saat kendhil diletakkan kembali.


Hasil kerajinan gerabah Desa Banyumulek ternyata sudah merambah sampai ke pasar internasional. Misalnya New Zeland dan beberapa negara di Eropa. Di desa ini, Anda bisa membawa pulang hasil seni tersebut dengan harga yang bervariatif. Tergantung dari bentuk, ukuran, motif hiasan, serta tingkat kesulitan saat proses pembuatannya.

Selain melihat hasil seni yang bewarna-warni tersebut, Anda juga bisa belajar dan ikut serta dalam proses pembuatannya. Anda akan terkejut pada saat peroses awal pembuatan gerabah. Karena para pengerajin tidak pernah menggunakan alat bantu ukur untuk menentukan diameter gerabah. Selain itu, alat-alat yang digunakan terbilang sederhana. Semuanya dilakukan dengan hati. Sehingga para pengerajin gerabah Desa Banyumulek ini mampu menghasilkan hasil seni yang berkualitas dan mengagumkan.

Ketrampilan para pengerajin Desa Banyumulek Lombok ini ternyata didukung oleh alam sekitar. Di sekitar desa, tanah liat dan air yang merupakan bahan baku, sangat mudah untuk didapatkan. Begitu pula dengan bahan pewarnanya. Para pengerajin tersebut biasanya menggunakan bahan pewarna alami, seperti biji asam yang dimasak dahulu. Namum dewasa ini, beberapa pengerajin juga mulai menggunakan bahan pewarna buatan yang bisa diperoleh dari desa tetangga.

Monday, June 16, 2014

Gendang Beleq

Bunyi gendang yang bertalu-talu, mewarnai keseharian hidup di Pulau Lombok. Inilah kesenian gendang beleq, yang menjadi ciri khas Pulau Lombok, sebuah pulau yang menjadi bagian dari provinsi Nusa Tenggara Barat.

Lombok, sebuah pulau seluas 4.700 kilometer persegi, terletak tepat di sebelah timur Pulau Bali. Pulau ini merupakan satu dari dua pulau utama, yang membentuk provinsi Nusa Tenggara Barat. Keindahan alamnya merupakan bagian dari pesona Lombok.
Namun Lombok tidak hanya menawarkan panorama. Pulau ini juga memiliki kesenian yang amat atraktif, yaitu gendang beleq, yang artinya gendang besar. Inilah kesenian yang menjadi ciri khas Lombok, dan mewarnai keseharian masyarakat di pulau tersebut 

Sebagaimana sebuah kesenian musik tradisional, gendang beleq pun memiliki makna yang dalam. Sejak pembuatannya yang diawali dari melubangi kayu, sejumlah sesaji dan doa telah dipanjatkan.

Tidak sembarang kayu bisa dijadikan gendang beleq. Pada umumnya, kayu yang dicari adalah yang ringan namun kuat. Selain itu, kayu yang diambil adalah yang umurnya telah lima tahun, sebab kayu lebih kering. Selesai dipotong dan dilubangi, kayu dipasangi penjangke atau penahan. Ini merupakan alat besi bundar, yang berguna untuk menjaga kayu agar tidak berubah. Tanpa penahan, kayu dapat berubah bentuk, akibat panas.

Kayu juga digores dengan gergaji. Air akan keluar dari goresan tersebut, sehingga kayu tidak pecah. setelah itu, barulah ia dijemur. Kulit kambing sebagai bahan gendang pun, tidak sembarang diambil. Yang bagus adalah yang berumur setidaknya lima tahun. Kulit kambing jantan digunakan untuk gendang lanang atau lelaki.
Kulit kambing betina untuk gendang wadon atau perempuan. Kulit kambing jantan lebih kuat, dan suara yang dihasilkan pun lebih keras. Agar lunak dan mudah dilubangi, kulit kambing yang masih keras direndam dalam air dingin, sekitar 40 menit. Ukuran gendang beleq disesuaikan dengan fungsinya. Gendang untuk tari lebih kecil daripada untuk instrumen, sebab pemainnya memukul dan menabuh gendang sambil menari. Gendang untuk tari pun lebih ringan, hanya dua kilogram. Sedangkan gendang instrumen bisa sampai lima kilogram. Gendang beleq juga dibedakan antara lelaki dan perempuan. Suara yang dihasilkan berbeda, dan inilah yang akan memunculkan bunyi gendang yang amat dinamis.

Tenun Sukerare

Desa Sukerare Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah merupakan salah satu desa penghasil kain tenun terbanyak di pulau Lombok. bagaimana tidak, dari 6700 penduduk sukerare hampir setengahnya berprofesi sebagai penenun. lebih dari 2800 orang penduduk Sukerare aktif sebagai penenun dengan jumlah produksi 12 lembar/pertahun/orang, masing-masing orang rata-rata dalam satu bulan berhasil membuat setidaknya 1 lembar kain tenun dalam satu bulan. angka ini sebenarnya bisa bertambah pada musim-musim tertentu, pada musim panen misalnya, jumlah produksi tenun turun drastis karena kebayakan ibu-ibu yang berporfesi sebagai penenun lebih banyak turun kesawah. namun diluar musim panen produksi tenun drastis bertambah, per orang bisa memproduksi 4-5 kain tenun dalam satu bulan.

 


Masing-masing sentra Industri tenun di Lombok mempunyai produk/motif andalan, begitu juga dengan Desa Sukerare, motif yang menjadi andalan adalah motif SUBHANALE, motif ini biasanya digunakan pada sarung atau songket, dan harganya pun tidak murah berkisar 500 ribu sampai dengan 1,5 Juta Rupiah. mahal ya..?? memang mahal, Anda tidak akan berkata ini mahal ketika Anda tahu proses pembuatannya yang sangat rumit dan detil, kata salah seorang penenun senior, untuk membuat dan menyelesaikan 1 lembar kain dengan motif subhanale bisa menghabiskan waktu hingga 2 minggu jika dikerjakan setiap hari dari pagi hingga sore. tidak hanya itu, untuk membuat motif ini harus melakukan ritual adat seperti berpuasa dan tidak boleh sembarang hari memulai pembuatan kain. hmm rumit dan ribet jg. jadi apa Anda masih berfikir harga seperti yang disebutkan tadi mahal..??

Tertarik untuk memiliki salah satu tenun karya penenun Sukerare? Anda bisa langsung bisa berkunjung ke Desa Sukerare, selain membeli tenun khas Lombok Sukerare Anda juga bisa melihat proses pembuatan tenun dan bertanya-tanya seputar tenun, asalkan jangan tanya nomer celana dalam penenunnya saja ya..?? hehe kidding. Di Desa Sukerare terdapat 15 Artshop dengan katalog lengkap yang dikumpulkan dari para pengrajin setempat, lokasi artshopnya pun tidak sulit untuk dicari, begitu Anda memasuki Desa Sukerare Anda akan langsung melihat ArtShop-artshop berjejeran di kiri dan kanan jalan.

Tradisi Nyongkolan

Nyongkolan adalah sebuah tradisi dimana sepasang pengantin di arak beramai-ramai menuju rumah mempelai wanita. Arak-arakan ini diramaikan dengan aneka tetabuhan alat musik dan kesenian khas suku Sasak. Nyongkolan bertujuan agar warga setempat mengetahui bahwa pasangan tersebut sudah sah menjadi suami istri.



Saat melakukan nyongkolan arak-arakan pasangan pengantin ditemani oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat, atau pemuka adat beserta sanak saudara berjalan mengelilingi desa. Yang mengikuti iring-iringan itu menggunakan baju adat Sask yaitu kebaya (baju adat Lombok), kereng (sarung khas Lombok), sanggul (penghias kepala), anting dan asesoris lainnya. Bagi pengiring laki-laki menggunakan godek nongke (baju adat Lombok), kereng poto (sarung panjang khas Lombok) dan sapu (ikat kepala khas Lombok). Dalam tradisi nyongkolan kedua mempelai diibaratkan sebagai raja dan permaisuri yang diiringi oleh pengawal dan dayang-dayang istana. Sebagian dari mereka biasanya membawa beberapa hantaran seperti hasil kebun, sayuran, maupun buah-buahan yang akan dibagikan pada kerabat dan tetangga mempelai perempuan. Bagi mempelai yang melaksanakan prosesi ini sering disebut sebagai “raje sejelo” atau dalam bahasa Indonesia berarti raja sehari. Dalam sebuah ritual pernikahan masyarakat Lombok, nyongkolan adalah bagian kecil ritual yang harus dilakukan oleh sepasang mempelai.

Yang juga menyemarakkan nyongkolan adalah lagu-lagu daerah yang nasional serta penari yang ikut memeriahkan. Untuk pengantin yang berasal dari kaum bangsawan, iring-iringan dilengkapi dengan penabuh rebana atau gendang beleq. Tidak hanya itu, rudat sebagai kesenian dari Timur Tengah dengan menampilkan berbagai gerakan pencak silat juga ikut meramaikan tradisi nyongkolan ini.

Uniknya, ada mitos yang dipercaya oleh warga setempat terkait dengan nyongkolan ini. Menurut kepercayaan yang berkembang, jika nyongkolan tidak digelar setelah prosesi pernikahan maka rumah tangga sepasang mempelai tersebut tidak akan langgeng dan keturunan dari suami istri yang menikah tanpa nyongkolan akan terlahir dalam kondisi cacat. Belum ada yang bisa mengkonfirmasi mitos ini, namun yang pasti hingga kini nyongkolan masih dilakukan dan tak jarang memicu kemacetan beberapa ruas jalan di Lombok. Jika Anda sedang berlibur ke Lombok saat akhir pekan, kemungkinan besar akan menemui beberapa ruas jalan yang ramai karena ada nyongkolan yang sedang dilakukan. Tradisi yang sampai sekarang masih dilakukan ini sangat menarik untuk diabadikan. Apalagi masing pengiring memakai baju adat Sasak serta tari-tarian tradisional yang menarik. Jika Anda penghobi fotografi pasti akan mendapatkan banyak angle foto yang menarik dari berbagai macam seni dan pengiring yang mengikuti arak-arakan ini. nyongkolan menjadi salah satu pelengkap liburan Anda,